16/10/08
Jakarta (ANTARA News) - Ratusan orang dari Serikat Petani Indonesia (SPI) menggelar unjukrasa menuntut dilaksanakannya pembaruan agraria, dengan meredistribusi lahan-lahan produktif untuk para petani kecil.
"Ini semua penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan di tengah krisis pangan dan keuangan yang sedang menghantam dunia," kata Ketua Umum SPI, Henry Saragih, yang bersama massa berdemo di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu, dalam rangka memperingati Hari Pangan Dunia 16 oktober.
Menurut dia, program ketahanan pangan yang digagas World Food Summit 1996 serta Gerakan Petani Internasional dengan pertanian masif, monokultur, berorientasi ekspor dan padat modal tidak akan berhasil.
Sebaliknya, pertanian kecil berbasis keluarga, polikultur, berorientasi memenuhi kebutuhan pangan lokal dan padat karya justru akan memecahkan masalah mendasar pertanian dan pangan, sekaligus kemiskinan, ujarnya.
"Dalam kurun waktu 10 tahun sejak berdiri 1998, SPI telah mengubah perkebunan besar dan lahan subur yang tidak digarap menjadi tanah rakyat dan dikuasai secara adil untuk memenuhi kebutuhan pangan," katanya.
Pada 2007-2012, lanjut dia, pihaknya berencana melaksanakan reforma agraria sejati dan mewujudkan 200 ribu hektar lahan produktif untuk petani kecil berbasis keluarga di seluruh Indonesia.
Massa yang hadir terlihat duduk-duduk kelelahan di sepanjang jalur hijau Jl Medan Merdeka Selatan dengan pakaian bermacam-macam, termasuk ibu-ibu yang menggendong anaknya. Sejumlah bus dan mini bus terlihat terparkir di sisi-sisi jalan dan menyebabkan kemacetan.
Beberapa pemuda menyebarkan brosur dan berorasi. Beberapa mengaku dari Komite Bersama Peringatan Hari Tani Nasional 2008. Para pedagang kaki lima tidak melepas kesempatan untuk datang berjualan di tengah kerumunan massa. (*)
COPYRIGHT © 2008
Label
BPN
(19)
Perhutani
(27)
Soeharto
(2)
alih fungsi
(3)
anti-pembaruan agraria
(3)
demo
(10)
gerakan sosial
(5)
hutan
(4)
kasus tanah
(13)
kebijakan
(12)
kemiskinan
(5)
ketidakadilan
(5)
konflik tanah
(7)
korupsi
(14)
lingkungan
(3)
pangan
(7)
pembagian tanah
(5)
pembaruan agraria
(24)
pemerintah
(8)
penangkapan petani
(11)
pendidikan
(6)
pertanian organik
(10)
polisi
(8)
produksi
(8)
sawit
(2)
sertifikat tanah
(8)
Tampilkan postingan dengan label Antara News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antara News. Tampilkan semua postingan
16 Oktober 2008
Ratusan Petani Protes Keadilan di Depan Istana Merdeka
16/10/08
Jakarta (ANTARA News) - Ratusan demonstran dari gabungan petani mendatangi Istana Merdeka Kamis pagi dengan berjalan kaki maupun menggunakan beberapa mobil bak terbuka yang dilengkapi dengan pengeras suara.
Massa demonstran membawa sejumlah spanduk dan pamflet yang antara lain menuntut adanya perlakukan adil terhadap para petani termasuk meminta dilakukannya "landreform".
Lalu lintas di sejumlah jalan sekitar kawasan Monas, Jakarta Pusat Kamis sekitar pukul 10.00 WIB tersendat akibat aksi demonstrasi para petani yang hendak menuju depan Istana Merdeka.
Lalu lintas di sekitar Jalan Merdeka Selatan tersendat karena terhalang massa demonstran yang memadari satu jalur dari tiga jalur di Jalan Merdeka Selatan.
Kemacetan juga terjadi di depan bundaran Patung Tani dan Jalan Medan Merdeka Timur.
Meski demikian arus lalu lintas di Jalan M.H Thamrin menuju arah Medan Merdeka Barat masih lancar.(*)
COPYRIGHT © 2008
Jakarta (ANTARA News) - Ratusan demonstran dari gabungan petani mendatangi Istana Merdeka Kamis pagi dengan berjalan kaki maupun menggunakan beberapa mobil bak terbuka yang dilengkapi dengan pengeras suara.
Massa demonstran membawa sejumlah spanduk dan pamflet yang antara lain menuntut adanya perlakukan adil terhadap para petani termasuk meminta dilakukannya "landreform".
Lalu lintas di sejumlah jalan sekitar kawasan Monas, Jakarta Pusat Kamis sekitar pukul 10.00 WIB tersendat akibat aksi demonstrasi para petani yang hendak menuju depan Istana Merdeka.
Lalu lintas di sekitar Jalan Merdeka Selatan tersendat karena terhalang massa demonstran yang memadari satu jalur dari tiga jalur di Jalan Merdeka Selatan.
Kemacetan juga terjadi di depan bundaran Patung Tani dan Jalan Medan Merdeka Timur.
Meski demikian arus lalu lintas di Jalan M.H Thamrin menuju arah Medan Merdeka Barat masih lancar.(*)
COPYRIGHT © 2008
Label:
Antara News,
demo,
pembaruan agraria
21 Maret 2008
Indonesia lacks agribusiness players, minister says
03/21/08 Jakarta (ANTARA News) - Agriculture Minister Anton Apriyantono said Indonesia lacked agribusiness players despite the fact that it is a big agrarian country.
"The number of people willing to do agribusiness in Indonesia is even smaller than that of Singapore which has a large number of agribusiness investors," the minister said when he opened the "Agrinex Expo 2008" here on Friday.
He said that the number of players in the agribusiness sector in Indonesia was small although the agribusiness sector in the country had bright prospect as it was predicted that the need for agricultural products, particularly food and energy, in the future would continue to increase.
"I guarantee that the agribusiness sector will become a promising business in the furue because demand for agricultural products in times to come would not decline," the minister said.
Unluckily, the number of businesspeople who wanted to do business in the agricultural sector in the country is small so that efforts to encourage businessmen to do business in that sector are needed, he said.
"Many people still consider that agricultural sector is a losing and outdated business," Anton said adding that the assumption was wrong because there was no other business sectors which could provide profit more than 100 percent in four months than the agricultural sector.
But he acknowledged that agricultural land in Indonesia was still too small, namely only 20 million hectares while the number of farmers reached 25 million.
He said that many farmers in Indonesia only owned 0.3 hectare of agricultural land so that it was difficult for them to increase national agricultural production.
"That is why we need to use a correct technology and to optimize the use of land to increase the country`s agricultural production," he added. (*)
COPYRIGHT © 2008
"The number of people willing to do agribusiness in Indonesia is even smaller than that of Singapore which has a large number of agribusiness investors," the minister said when he opened the "Agrinex Expo 2008" here on Friday.
He said that the number of players in the agribusiness sector in Indonesia was small although the agribusiness sector in the country had bright prospect as it was predicted that the need for agricultural products, particularly food and energy, in the future would continue to increase.
"I guarantee that the agribusiness sector will become a promising business in the furue because demand for agricultural products in times to come would not decline," the minister said.
Unluckily, the number of businesspeople who wanted to do business in the agricultural sector in the country is small so that efforts to encourage businessmen to do business in that sector are needed, he said.
"Many people still consider that agricultural sector is a losing and outdated business," Anton said adding that the assumption was wrong because there was no other business sectors which could provide profit more than 100 percent in four months than the agricultural sector.
But he acknowledged that agricultural land in Indonesia was still too small, namely only 20 million hectares while the number of farmers reached 25 million.
He said that many farmers in Indonesia only owned 0.3 hectare of agricultural land so that it was difficult for them to increase national agricultural production.
"That is why we need to use a correct technology and to optimize the use of land to increase the country`s agricultural production," he added. (*)
COPYRIGHT © 2008
Label:
Antara News,
kebijakan,
pemerintah,
produksi
Langganan:
Postingan (Atom)