Label
19 Januari 2007
Buah Simalakama Politik Beras (Opini)
Oleh
Posman Sibuea
Beberapa minggu terakhir ini harga beras melambung tinggi. Pengakuan pedagang beras di sejumlah daerah, saat ini adalah harga beras termahal yang pernah mereka rasakan. Menko Perekonomian Boediono pun mengaku khawatir mengikuti perkembangan harga beras. Untuk itu pemerintah telah melakukan operasi pasar (OP) beras di sejumlah daerah guna meredam kenaikan harga makanan pokok yang satu ini.
Kenaikan harga beras adalah buah simalakama politik beras. Jika harga beras naik, maka masyarakat konsumen beras yang jumlahnya amat banyak di negeri ini akan mengalami kesulitan untuk memperolehnya di tengah daya beli yang kian menurun. Sementara, jika harga beras turun petani, si pahlawan ketahanan pangan, akan mengalami keterpurukan ekonomi, karena harga gabahnya tidak akan mengalami kenaikan meski berbagai kebutuhan hidup lainnya sudah mengalami kenaikan harga.
Pertanyaannya, mengapa setiap ada kelangkaan beras yang memicu kenaikan harga, pemerintah selalu mengambil langkah jangka pendek, yakni operasi pasar. Rasanya sulit memprediksi kesaktian OP dapat menyelesaikan masalah. OP dapat diibaratkan sebagai alat pemadam kebakaran.
Jika apinya sudah mereda, dibutuhkan keseriusan untuk menjaga dan merawat bangunan agar tidak terulang kebakaran. Lantas, dalam hal perwudan ketahanan pangan yang kokoh, pemerintah harus berhenti menggiring warga untuk terus mengonsumsi beras lewat pengadaan OP beras.
Implikasi pelaksanaan OP beras akan menetaskan nikmat membawa sengsara. Nikmat bagi masyarakat konsumen beras di perkotaan karena dapat membeli beras dengan harga murah. Namun membawa sengsara bagi petani padi karena gabah mereka tidak pernah menyentuh level harga dasar yang sudah mencapai Rp 2000 per kg.
Jika pemerintah selalu ikut campur tangan dalam penentuan harga beras, rakyat perkotaan akan merasa dininabobokan dan tidak memberi ruang untuk memulai mengonsumsi pangan nonberas berbasis diversifikasi.
Mimpi Buruk Malthus
Di tengah OP beras, muncul pertanyaan, apa yang salah dalam konsep diversifikasi konsumsi pangan sehingga begitu susah mewujudkan? Padahal kata diversifikasi bak sebuah mantra yang sering dikomat-kamitkan sejak tahun 1974, berkaitan dengan ketahanan pangan nasional yang menempatkan melulu beras sebagai makanan pokok.
Operasi pasar menjadi bukti kegagalan program diversifikasi pangan. Beras telah mengkristal sebagai makanan pokok, mengingkari deklarasi yang dideklarasikan pemerintah sendiri sejak 32 tahun lalu. Program diversifikasi dijangka menjadi buffer untuk mengurangi laju konsumsi beras.
Namun, hingga kini tingkat konsumsi beras di Indonesia tetap tinggi, yakni 135 kg per kapita per tahun. Dengan jumlah penduduk 222 juta jiwa, pemerintah harus menyediakan sekitar 30 juta ton beras per tahun. Suatu beban amat berat di tengah maraknya alih fungsi lahan belakangan ini.
Berangkat dari masalah kelangkaan beras saat ini, muncul pertanyaan bagaimana situasi pangan 2007? Ada dua alasan mengapa pertanyaan ini diajukan. Pertama, mimpi buruk Thomas Malthus bahwa pertambahan penduduk terjadi secara eksponensial, sementara kenaikan produksi pangan terjadi secara linier, sudah mendekati kenyataan di Indonesia. Laju pertumbuhan penduduk saat ini tetap tinggi, yakni 1,60 persen.
Artinya, ada pertambahan penduduk pemakan nasi sekitar tiga juta jiwa lebih per tahun yang membutuhkan beras sebanyak 420.000 ton per tahun. Sementara produksi padi tahun 2006 hanya naik 1,11 persen.
Kedua, pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya tak dapat ditunda-tunda sehingga permasalahan pangan harus ditempatkan pada topik sentral dalam pembangunan nasional. Namun, kenyataannya belum terjadi perubahan fundamental baik pada aras kebijakan, visi maupun paradigma dalam menangani persoalan ketahanan pangan ke arah yang lebih baik.
Kegagalan mempertahankan swasembada 1984 padahal dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk melangkah ke arah peningkatan produksi pangan dalam arti luas guna memenuhi kebutuhan warga.
Jika setiap ada gejolak kelangkaan beras, pemerintah selalu menggelar OP, maka ”politik nasi” tetap dipakai sebagai kenderaan politik untuk melanggengkan kekuasaan yang berimplikasi hilangnya komitmen mewujudkan diversifikasi pangan.
Tiga Langkah
Apa langkah yang harus ditempuh pemerintah di tahun 2007 guna mendorong masyarakat mau mengurangi konsumsi beras? Langkah pertama yang patut dilakukan adalah diversifikasi produksi dan ketersediaan pangan. Diversifikasi konsumsi pangan bisa tercapai jika tersedia pangan yang juga beraneka ragam.
Ketersediaan aneka jenis bahan pangan baik berupa sumber enersi maupun sumber gizi lainnya seperti protein, lemak, vitamin dan mineral, dalam bentuk bahan mentah atau olahan akan menjamin terpenuhinya kebutuhan konsumsi pangan secara berkelanjutan.
Selama ini ada anggapan keliru bahwa diversifikasi hanya diartikan dari perspektif substitusi makanan pokok beras. dengan berbagai umbi-umbian, atau sumber karbohidrat lainnya. Diversifikasi sejatinya mencakup pangan secara keseluruhan baik bagi golongan sumber karbohidrat maupun pangan sumber zat gizi lainnya.
Kedua, meningkatkan daya beli masyarakat. Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan diversifikasi adalah kemiskinan. Dengan penghasilan di bawah dua dolar AS per hari kemampuan sekitar 109 juta penduduk Indonesia yang tergolong miskin masih amat terbatas melakukan diversifikasi konsumsi pangan.
Akhirnya mereka tetap tergantung pada beras OP (raskin) yang disediakan pemerintah sehingga susah beralih ke makanan alternatif berbasis lokal. Karena itu, pemerintah harus menciptakan lapangan kerja dan mendukung gerakan antikorupsi yang kini digagasi berbagai kelompok masyarakat.
Ketiga, melakukan pengembangan teknologi pengolahan pangan. Beranekaragamnya pangan yang tersedia terutama ditentukan oleh produksi pangan dan perkembangan teknologi pengolahan pangan, yang dapat menghasilkan berbagai produk pangan olahan berbasis padi-padian, umbi-umbian, hasil ternak, ikan, buah dan sayur dan hasil pangan lainnya dengan mutu terjamin.
Jika program ini diikuti pelatihan bagi perempuan sehingga mereka mampu berimprovisasi di bidang pengolahan produk pangan lokal akan dapat mengatrol kesejahteraan mereka karena keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan menjual pangan nonolahan.
Dari perspektif gizi, diversifikasi konsumsi pangan memiliki mutu gizi yang lebih berimbang dibandingkan mutu masing-masing pangan penyusunnya. Jadi, dalam menyongsong “Indonesia Sehat 2010” paradigmanya tidak lagi semata meningkatkan produksi beras nasional tapi pemerintah harus mampu memproduksi beraneka jenis bahan pangan sebagai salah satu pilar perwujudan diversifikasi konsumsi pangan.
Penulis adalah doktor dalam Bidang Ilmu dan Teknologi Pangan. Dosen di Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Unika St Thomas SU Medan.
13 Januari 2007
Sekolah Komunitas Petani: ANTARA TANAH DAN AKSES PENDIDIKAN
Oleh P Bambang Wisudo
Pendidikan dan penguasaan atas tanah merupakan modal yang mesti dimiliki petani untuk hidup sejahtera. Akan tetapi justru dua hal itu jarang dimiliki petani. Sebagian besar petani tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan tanah. Proses marjinalisasi pun berlangsung turun-temurun. Penguasa silih berganti, tetapi nasib petani makin terpinggirkan. Berharap suatu hari negara berpihak pada petani ibarat menunggu godot.
Para petani di Pasawahan yang tinggal di sekitar areal eks perkebunan karet di pegunungan Cipucung, sekitar 70 kilometer dari Kota Ciamis, memilih tidak tinggal diam. Mereka bersama-sama berjuang untuk mendapatkan akses atas tanah dan pendidikan untuk anak-anak mereka. Hasilnya pun mulai dirasakan sekarang. Selain berhasil mendapatkan tanah garapan, para petani itu kini memiliki sebuah sekolah yang diidam-idamkan.
“Bagi saya, sekolah adalah nomor dua. Hal pertama yang harus diperjuangkan adalah tanah,” kata Oyon (48), tokoh masyarakat di Desa Pasawahan, Jawa Barat.
Pada awal tahun 2000, Oyon bersama sejumlah petani Pasawahan mulai bergerak. Mereka mengajukan permohonan untuk menggarap tanah eks perusahaan perkebunan karet yang ditelantarkan sejak tahun 1993.
Kawasan perkebunan karet tersebut sudah ditumbuhi semak belukar. Dua bulan permohonan itu tidak dijawab. Yakin bahwa hak guna usaha tanah perkebunan itu telah berakhir, para petani yang bergabung dalam Serikat Petani Pasundan itu kembali mengajukan permohonan menggarap tanah ke tingkat kabupaten. Permohonan itu lagi-lagi tidak dijawab. Setahun kemudian para petani melakukan aksi reklaiming dengan menebangi pohon-pohon karet yang ada di kawasan itu.
Dari lahan yang direklaim sekitar 170 hektar, tiap keluarga
petani mendapatkan tanah garapan sekitar 200 bata atau sekitar
seperempat hektar. Sampai sekarang Badan Pertanahan Nasional belum
memberi lampu hijau tanah itu dikembalikan pada petani.
“Saya yakin tanah ini nanti akan jatuh ke rakyat,” kata Oyonyang
bersekolah hanya sampai kelas VI SD.
Perjuangan para petani Pasawahan tidak berhenti di situ. Setelah
kehidupan para petani itu mulai tertata, mereka bersama berembuk
untuk menggarap pendidikan. Sampai tahun 2002, hanya sekitar 5 persen
anak usia SMP di desa itu yang bersekolah. Setelah lulus SD biasanya
anak-anak laki-laki menghabiskan waktunya untuk bermain. Anak-anak
perempuan membantu ibunya, menjadi buruh jahit bordir, atau kawin di
bawah umur.
Dengan bantuan aktivis SPP yang tinggal di desa itu sebagai guru
sukarelawan, tahun ajaran baru 2003 mereka mulai menyelenggarakan
sekolah. Bangunannya meminjam gedung madrasah. Anak-anak yang datang
dari desa lain tinggal satu pondokan bersama guru-guru.
SMP Plus Pasawahan kini memiliki 65 murid. Mereka telah memiliki
gedung sekolah dengan bangunan permanen. Dua kelas dibangun dengan
dana swadya masyarakat. Dana yang terkumpul dari petani dan sahabat
sekolah tidak kurang dari Rp 80 juta. Bangunan sekolah dibuat tinggi.
Plafon dibuat dari papan kayu, dipergunakan untuk perpustakaan dan
tempat penginapan. Dua lainnya dibangun dari hibah Departemen
Pendidikan sebesar Rp 100 juta. Sekolah itu berdiri di atas areal
pertanian seluas empat hektar, bekas tanah perkebunan karet, yang
masih bermasalah.
“Dulu, sebelum ada sekolah ini, anak-anak Pasawahan paling-paling
bersekolah sampai lulus SD. Banyak anak yang tidak bisa melanjutkan
sekolah. Memang, katanya, sekolah gratis tetapi tetap saja butuh
ongkos transpor. Padahal petani di sini hidup pas-pasan,” kata
Sartiwi (17), siswa kelas III SMP Plus Pasawahan.
Untuk mencapai lokasi SMP terdekat, anak-anak di Pasawahan harus
mengeluarkan ongkos ojek sekitar Rp 10.000 per hari. Belum lagi kalau
hujan, jalanan tidak bisa dilewati.
Cerita Sartiwi dibenarkan Saud Sunaryo (50). Kata Sunaryo, petani
di desa itu sebenarnya ingin anak-anaknya terus sekolah paling tidak
sampai lulus SMP. Namun karena berat di ongkos, mereka akhirnya
membiarkan anak-anak putus sekolah. Saud menuturkan, di desa itu
memang pernah didirikan kelas jauh tetapi bubar setelah dua bulan
berjalan.
Keberadaan SMP Plus Pasawahan ternyata bukan hanya berkah bagi
anak-anak Pasawahan, tetapi juga bagi anak-anak dari desa-desa di
Ciamis Selatan yang menjadi wilayah kerja Serikat Petani Pasundan.
Dari 65 anak yang kini belajar di SMP Plus Pasawahan, sejumlah 22
anak berasal dari desa lain. Mereka tinggal di pondokan bersama guru.
Pondokannya sangat sederhana. Mereka hanya tidur di lantai beralaskan
tikar. Makanan pun seadanya. Beras disumbang dari petani dan sayur
diambil di kebun. Untuk lauk-pauk, mereka biasanya memperoleh
sepotong ikan asin atau tahu-tempe sebesar ibu jari.
“Kami memasak secara bergantian. Semua anak di sini bisa
memasak,” kata Deni Sunaryo (16).
Anak-anak petani yang bersekolah di SMP Plus Paswahan merupakan
anak-anak yang beruntung. Sekalipun memiliki seragam, mereka tidak
harus bersekolah dengan mengenakan baju seragam. Mereka boleh pergi
sekolah tanpa bersepatu. Tidak seperti anak-anak di sekolah pada
umumnya, mereka bisa berinteraksi bebas dengan kawan-kawan dan guru.
Mereka bisa belajar sambil tiduran. Mereka memiliki waktu yang
leluasa untuk berkesenian. Dua jam tiap hari Jumat dan sehari penuh
tiap hari Sabtu mereka belajar bertani.
Tidak hanya itu. Tiap hari anak-anak itu dibiasakan menulis.
Mereka bisa menulis puisi, cerita pendek, laporan kunjungan lapangan,
ataupun membuat jurnal pengalaman mereka berkebun. Tiap anak mendapat
bagian tanah untuk bereksperimen seluas 2 x 5 meter yang bebas
dipergunakan untuk menanam apa saja. Rata-rata anak kelas II telah
menghasilkan puluhan puisi.
Tiap bulan mereka menerbitkan buletin kelas yang diperbanyak
dengan cara fotokopi. Sebagian dari mereka, ketika baru masuk ke SMP
Plus Pasawahan, masih gagap membaca dan menulis. Kini membaca dan
menulis menjadi menu penting dalam keseharian mereka.
Sekolah itu dilayani oleh empat belas guru, tiga di antaranya
adalah anak-anak muda aktivis petani dari luar desa. Mereka bekerja
tanpa dibayar. Baru beberapa bulan ini saja mereka mendapatkan uang
transpor sebesar Rp 7.000 sehari mengajar berkat adanya dana bantuan
operasional sekolah.
Saeful Milah (25), alumnus Universitas Galuh, sudah hampir dua
tahun mengajar di Pasawahan tanpa memperoleh gaji. Ia makan dan tidur
bersama anak-anak. Saeful sebelumnya pernah mengajar di Madrasah
Tsanawiyah Sururon Garut. Sejak semester empat ia sudah terlibat
dalam kegiatan-kegiatan pendampingan petani.
“Tidak terpikir mau berapa tahun saya mengajar di sini. Kalau
sekolah ini sudah aman, tenaga pengajarnya mencukupi, saya baru mau
meninggalkan sekolah ini dan merintis di tempat lain,” kata Saeful.
Haslinda Qadariyah (28), jebolan Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran, juga jatuh hati pada SMP Plus Sururon. Ia
tidak merisaukan masa depannya. “Tidak tahu sampai kapan saya di
sini. Anak-anaklah yang bikin saya betah. Kalau bisa, saya ingin lama
tinggal di sini,” kata Haslinda.
SMP Plus Pasawahan merupakan kebanggaan petani Pasawahan. Di
areal bekas tanah perkebunan, yang hanya bisa dijangkau dengan
bersusah payah dengan menggunakan ojek atau mobil bak terbuka,
terdapat sebuah sekolah yang tidak kalah dengan sekolah-sekolah di
kota.
Perjuangan untuk memperoleh hak atas tanah dan pendidikan
memberikan harapan baru bagi para petani yang selama ini dipinggirkan.***
20 Oktober 2006
Pelestari Pesisir Gunung Kidul
Irma Tambunan
Soetadi Prawoto mungkin lebih dikenal karena wataknya yang keras. Sekeras kegigihannya menyelamatkan pesisir selatan Gunung Kidul di DI Yogyakarta, saat penambang-penambang liar mengeruki ratusan ton pasir putih. Nyawanya pernah hampir melayang pada masa-masa itu.
Memang butuh waktu panjang untuk memperjuangkan sebuah keyakinan. Soetadi tahu betul bahwa berhadapan dengan para penambang liar pasir putih dari tahun 2000 hingga 2006 sama dengan mengundang konflik sosial.
Akan tetapi, ia tetap bersikeras pada pendirian bahwa ekosistem di kawasan pantai selatan akan semakin rusak apabila eksploitasi pasir putih terus berlanjut. Dengan menggandeng para pemuda karang taruna di desanya, Jepitu, Girisubo, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, para penambang liar itu pun diusir.
Sebenarnya Soetadi telah memilih cara yang lebih lunak lewat sejumlah pendekatan. Namun, cara ini tidak berhasil. Ia malah hampir dihajar oleh para penambang. Suami dari Sudariyah (alm) dan ayah tujuh anak ini pun menyurati pemerintah daerah setempat, pemerintah provinsi, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, bahkan Presiden RI yang saat itu dijabat Megawati Soekarnoputri.
Intinya, ia meminta pemerintah untuk menertibkan aksi penambangan liar di sana. Dokumen-dokumen foto ia lengkapi sebagai bukti. Dalam rentang lima tahun, pendekatan lunak itu tak kunjung terwujud sesuai harapan. Ia malah diberi nasihat, "Melestarikan lingkungan itu bukan hal gampang, Pak."
Di usia 76 tahun ini, Soetadi memilih fokus pada penyelamatan kawasan Pantai Wediombo, pesisir selatan Kabupaten Gunung Kidul yang memiliki teluk-teluk indah, bersih, dan berpasir putih. Karang-karang bertebing tinggi membentuk rangkaian bebas dan taman lautnya menyempurnakan keindahan Wediombo. Macan tutul dan kumbang, puluhan kijang, ratusan kera ekor panjang, dan tak terhitung banyaknya jenis burung serta kelelawar, hidup nyaman di sana.
Wediombo juga kerap menjadi pendaratan penyu-penyu yang bertelur. Kenyamanan aneka habitat ini tak lepas dari perjuangannya, yang kemudian membuat Soetadi dikenal sebagai pelestari Wediombo. Atas pengabdiannya dalam penyelamatan lingkungan kawasan pesisir selatan, Soetadi dianugerahi Kalpataru DIY tahun 2003.
Bukit Seribu
Saat berkunjung ke rumahnya yang sederhana di utara Pasar Jepitu, sekitar 40 kilometer dari Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunung Kidul, pertengahan Oktober ini, hasil kegigihan atas pelestarian kawasan Pantai Wediombo masih tampak jelas. Dengan tulus ia menawarkan diri untuk mengantar kami menjelajahi setiap keindahan di sana.
Tubuh yang mulai mengerut itu masih kokoh menapaki bukit-bukit seribu yang penuh bebatuan karst seperti karang-karang lancip. Kita jadi semakin menyadari akan pentingnya konservasi alam saat memasuki goa-goa yang berornamenkan stalaktit dan stalagmit di sepanjang tepian pantai.
"Lihatlah, belum lama ini ada yang masuk goa tanpa sepengetahuan kami, lalu mematahkan stalaktit ini. Kalau semua orang mengambil ornamen di sini, rusaklah sudah goa-goanya. Padahal, butuh proses ratusan tahun agar ornamen-ornamen seperti ini terbentuk," ujarnya sambil menunjuk salah satu ornamen stalaktit yang rusak.
Di salah satu teluk ia menunjuk lokasi pendaratan penyu. Sebelumnya, masyarakat kerap mengambil telur untuk dikonsumsi, maupun tukik (anak penyu) untuk dijual ke luar desa. Soetadi memilih cerewet untuk mengingatkan masyarakat agar membiarkan penyu-penyu itu tetap hidup bebas.
Soetadi kemudian menggagas lahirnya sebuah peraturan desa yang bertujuan supaya konservasi lingkungan Wediombo didukung secara legal. Sejumlah aturan bakal segera disahkan, seperti larangan memburu hewan-hewan yang dilindungi, mengambil dan merusak ornamen dalam goa, serta menebangi pohon-pohon berusia muda.
Pada masa mudanya, kegemaran Soetadi adalah berburu babi hutan di sekitar pantai yang masih rimbun bersama sejumlah sahabatnya, seperti Paku Alam VIII, mantan Presiden Soeharto, dan almarhum Sudarmaji. Pria kelahiran 1933 ini pernah merantau keluar Gunung Kidul, jadi penjual kertas bekas di Kota Yogyakarta, lalu menjadi staf khusus Trikora Perintis Kemerdekaan RI.
Tahun 1980-an ia pulang ke kampung halaman. Dilihatnya potensi pantai-pantai itu belum sedikit pun dikembangkan. Maka, Soetadi bersama dua warga lain mencoba-coba membuat kapal kecil sederhana untuk melaut. Saat hendak menebang pohon untuk membuat kapal, Soetadi baru menyadari kondisi pesisir selatan telah jauh berubah. Hanya sekitar 10 hingga 20 persen hutan pantai yang masih ada tanamannya, selebihnya telah gundul.
Sejak itulah hasrat melestarikan alam Wediombo tumbuh menggelegak pada diri Soetadi. Batinnya berbisik: keindahan dan seluruh potensi ini seharusnya bisa dinikmati oleh anak-cucu. Jika potensi-potensi alam ini dijaga, secara tidak langsung akan mengangkat Wediombo sebagai kawasan wisata dan pada gilirannya bisa mengangkat perekonomian warga setempat pula.
Matahari telah terbenam saat kami keluar dari sejumlah goa pantai, dan menikmati Pantai Wediombo dari salah satu puncak bukit. Soetadi merebahkan diri di tepi jalan setelah meletakkan kamera bawaannya—ia memang hobi fotografi. Ia menikmati tiupan angin sore, sambil menatap cahaya jingga di langit barat.
20 September 2006
Redistribusi Tanah Tidak Selesaikan Kemiskinan
Jakarta, Kompas - Redistribusi tanah tidak serta-merta menyelesaikan persoalan kemiskinan. Redistribusi tanah harus disertai dengan berbagai hal sehingga kesejahteraan petani bisa diwujudkan.
Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto, ketika meresmikan Lembaga Pengkajian Pertanahan (LPP) di Jakarta, Selasa (19/9), mengatakan, redistribusi tanah harus dilakukan disertai sejumlah syarat, seperti akses ekonomi dan politik, informasi mengenai tanah yang memadai, serta pengetahuan tentang pembaruan agraria.
Menurut Joyo, di Indonesia setidaknya sudah 800.000 hektar tanah yang diredistribusi, tetapi tidak serta-merta menyejahterakan petani. "Inilah yang menjadi pemikiran di dunia. Kalau hanya redistribusi tanah, belum lengkap," katanya. Di beberapa negara juga terjadi hal yang sama.
Pembaruan agraria
Joyo juga mempertanyakan tentang pengetahuan pembaruan agraria di berbagai kalangan. Sudah lama pengetahuan ini kurang dimengerti secara memadai.
"Apakah pengetahuan kita tentang pembaruan agraria memadai? Belum. Sejak merdeka, masalah itu telah terinternalisasi ke dalam berbagai lembaga, tetapi terhenti hingga tahun 1980-an," ujar Joyo.
Setelah itu, pengetahuan mengenai agraria mengalami kemunduran, sementara persoalan keagrariaan terus berkembang. Hal ini yang dihadapi para pegiat masalah pertanahan di kalangan petani.
"Untuk itu, kita harus menginternalisasi pengetahuan keagrariaan untuk dilembagakan. Salah satu cara meningkatkan pengetahuan itu adalah melalui pendidikan. Untuk itulah LPP didirikan. Harapan saya, dengan lembaga ini, adalah bagaimana memastikan kesejahteraan rakyat terbangun melalui pembenahan persoalan pertanahan," katanya.
Sementara itu, Soedjarwo Soeromihardjo, salah satu pendiri LPP, mengatakan bahwa wadah ini terkait dengan pengembangan ilmu pertanahan yang dikaji melalui berbagai aspek keilmuan.
Beberapa kalangan yang menjadi pendiri LPP ini antara lain Prof Sediono MP Tjondronegoro, Gunawan Wiradi, Liliana Arif Gondoutomo, Prof Achmad Sodiki, Agustiana, dan Usep Setiawan. Fokus perhatian LPP antara lain soal hukum, sosial, budaya, dan ekonomi. (JOS/MAR)
08 Juni 2006
Kasus Cikatomas Tak Berhubungan dengan Cisompet
"Kalau ada yang mengait-ngaitkan itu pancingan untuk menyudutkan serikat petani," ujar Agustiana saat dihubungi Tempo, Kamis sore. Saat kejadian, kata Agustiana, pengurus dan anggota sedang berkumpul di Garut.
Saat itu dia bersama teman-temannya tengah meredam amarah warga agar tidak terjadi konflik berkepanjangan menyusul dibakarnya rumah warga dan dihancurkannya tanaman pisang serta palawija di Kecamatan Cisompet oleh ratusan orang tak dikenal. "Saya sempat mengancam untuk memecat siapa saja yang melakukan tindakan di luar koridor," ujarnya.
Agustiana curiga kejadian di Cikatomas dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana dengan mengadu domba rakyat dengan pihak perkebunan. "Saya tidak mau rakyat berdarah-darah karena diadukan dengan rakyat lagi," ujar dia.
Menurut Agustiana, pihaknya curiga kejadian di Cikatomas dilakukan untuk memecah kekuatan serikat petani dan membuat citranya menjadi buruk. "Karena itu kami mendesak polisi untuk menyelidiki kasus di Cikatomas itu," katanya.
Agustiana menambahkan, jika pihaknya ingin mengungkapkan kemarahan atas peristiwa pembakaran di
Cisompet, itu bukan perkara yang sulit. "Ada tujuh ribu orang saat itu yang sedang marah. Kalau mau, saya bisa menggerakan mereka saat itu juga," katanya.
Agustiana mengaku memiliki dokumentasi berupa rekaman video saat peristiwa di Cisompet itu terjadi. "Dengan melihat rekaman itu kita bisa tahu siapa yang memulai aksi pengrusakan ini," katanya.
Rana Akbari Fitriawan
07 Februari 2006
Lahan Pertanian di Blitar Termakan Real Estate
TEMPO Interaktif, Blitar:Gencarnya proyek real estate dan perumahan membuat luas lahan pertanian di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, terus menyempit dari tahun ke tahun dan menurunkan jumlah produksi hasil pertanian.
"Ini memang kondisi yang tidak menguntungkan bagi sektor pertanian. Penyempitan lahan karena banyak tanah pertanian dijadikan kawasan real estate dan perumahan. Di sisi lain, perumahan juga penting bagi masyarakat," kata Hari Budi Harto, Kepala Sub Dinas Bina Program Dinas Pertanian Kabupaten Blitar, Rabu (6/2).
Menurut Hari, penyempitan lahan selama kurun waktu 2006 hingga 2007 mencapai 10 hektare. Berdasarkan data Dinas Pertanian, pada tahun 2006 luas lahan pertanian di Kabupaten Blitar 127.143 hektare, namun akhir 2007 menyusut jadi 127.133 hektare.
Sejumlah wilayah kecamatan yang kini tengah marak dibangun proyek perumahan dan real estate di antaranya di Kecamatan Nglegok, Wlingi, Kanigoro dan Gandusari. Di kawasan yang merupakan sentra penghasil pertanian itu kini mulai banyak bermunculan perumahan baru yang lahannya diambil dari pembebasan lahan pertanian.
"Akibat penyusutan jumlah luas lahan pertanian, secara otomatis jumlah hasil produksi pertanian juga ikut menurun. Yang paling mengkhawatirkan adalah ketersediaan bahan makanan pokok," kata Hari.
Untuk mengantisipasi hal itu, Dinas Pertanian Kabupaten Blitar akan melakukan strategi memaksimalkan lahan dengan sistem peningkatan panen. Contohnya, jika biasanya sepetak lahan hanya mampu panen sekali, maka akan diupayakan untuk bisa panen dua kali.
"Selain itu, juga perlu penambahan saluran irigasi dan ketersediaan pupuk. Karena air dan pupuk merupakan faktor utama yang menentukan berhasil tidaknya peningkatan jumlah panen," kata Hari.
DWIDJO U. MAKSUM
02 September 2005
Nepal farmers reap bumper harvest
The system was invented by a French Jesuit in Madagascar in the 1980s and has already scored successes in parts of Africa, Latin America and Asia, including India and China. Now it offers Nepalese a ray of hope in a country beset by conflict. During a patchy monsoon, Ananta Ram Majhi, his father and women relatives are harvesting the rice they planted in April on their farm near the city of Biratnagar. In lush fields bordered by fruit trees and bamboo, the family swipe with their sickles, cutting an unusually abundant rice crop. These are great thick stalks of rice, 50 or 60 sprouting from each seed. The good yield is thanks to a scheme new to Nepal, the System of Rice Intensification or SRI. Thirstier methods Ananta Ram and his neighbours were trained in it by a local farming official, Rajendra Uprety, who read of its success in other countries and took it up. "This method yields more than twice as much rice," Ananta Ram enthuses, estimating the new figure at 240 kilograms per kattha (360 square metres). "It uses one-tenth of the seeds - and much less water." There are many factors to SRI, but the key can be seen at a nearby farm where a younger crop is being transplanted. Earth is left on the seedlings instead of being shaken off. The women replant them in a strict straight line, singly rather than in clusters, and much further apart than is usual - about 25 centimetres. Best of all, there is a huge saving on water - the field need only be damp, not flooded. The rice is planted in mud, only needing extra weeding as compensation. The maturing plants flourish, much taller and stronger than their conventional neighbours. SRI is now used patchily in 22 countries - mainly thanks not to governments, but to dedicated individuals like Rajendra Uprety, agricultural extension officer for Morang district. He has hosted Nepal's minister of agriculture and persuaded the government to promote SRI nationally - so far, the only local agriculture official in the world to achieve this. His efforts have won a World Bank award. He says it is impossible to tell why less efficient and thirstier methods of cultivation have become customs. But he says the rice loses much potential if left in the nursery too long. Skilled attention Mr Uprety says that two years ago there was only one SRI farmer in his district. "Now I have more than 1,400. There are so many other farmers around Nepal, so many people ask me, telephone me. I send the information." The ministry has now produced 10,000 photographic posters about SRI, but he wants the word to spread more quickly. In this poor country, 85% of people depend on subsistence farming, mainly rice. Half the districts suffer a food deficit. According to Mr Uprety, these shortfalls would be wiped out if just 10 percent of the land switched to this rice system. It would also end the government practice of airlifting rice to 20 hill districts. Dan Bahadur Rajbansi, a farmer for 35 years, is another new convert to SRI. He showed the BBC a traditional rice plant in his left hand - just eight stalks from one seed. An SRI seedling in his right hand had yielded over 50. "When I first heard about the system, it sounded so wonderful that I couldn't believe it," he says. "But I tried sowing the seedlings on about 1,200 square metres of land. The results were marred by the drought. But they've still been impressive. We used to get barely 3,000 kilos of rice per hectare. Now we get about 6,000." But it needs no special seeds and works better with natural compost than chemical fertiliser. Its practices such as greater spacing of seedlings have now been extended beyond rice to sugar cane, finger millet and even winter wheat - in Poland. And the crop, as well as being more abundant, matures more quickly. On their farm, Ananta Ram and his family anticipate another bumper harvest in October - and savings on water, money and land use. | |||||||