Label
30 Mei 2008
Konsumsi Susu di Indonesia Rendah
TEMPO Interaktif, Jakarta:Jumlah konsumsi susu di Indonesia masih rendah dibandingkan negara di Asia lainnya. Masyarakat Indonesia meminum susu 9,0 liter per kapita per tahun, sedangkan negara lainnya seperti Malaysia mencapai 25,4 liter per kapita per tahun.
Dibandingkan dengan Vietnam, Indonesia juga masih lebih rendah. Vietnam mengkonsumsi susu sebanyak 10,7 liter per kapita per tahun. Tetra Pak Indonesia, salah satu produsen susu, mengungkapkan hal ini dalam peringatan Hari Susu se Dunia, Selasa (27/05).
Tetra Pak bersama pemerintah, swasta, maupun lembaga non profit melakukan kampanye agar masyarakat sadar pentingnya manfaat susu bagi tubuh dan peran perekonomian Indonesia.
"Susu cair alami memiliki kandungan gizi lengkap," kata Mignone N.B. Maramis, Direktur Komunikasi PT Tetra Pak Indonesia. Dalam acara itu turut hadir Staf Ahli Menteri Kesehatan, bidang Mediko Legal Rachmi Untoro.
Aqida Swamurti
27 Mei 2008
Hutan Di Jawa Barat Kian Ciut
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Anang Sudarna membantah data itu. Menurut Anang, sejak tahun 2004 hingga 2010, pihaknya sudah melakukan rehabilitasi yang ditargetkan mencapai 40 ribu hektare. "(Bibit) yang kami tanam lima tahun lalu mungkin tidak tampak di satelit," ujar Anang.
Rehabilitasi ini, dilakukan karena pada tahun 2004, ada 151 ribu hektare lahan kritis dari 816 ribu hektar luas hutan di Jawa Barat saat itu. Sekarang, kata Anang, luas lahan kritis tersisa 37 ribu hektar lagi. "Jadi kalau berdasarkan data kami, gerakan rehabilitasi hutan berhasil hingga 95 persen," katanya.
Selain melakukan rehabilitasi di kawasan hutan lindung, kata dia, pihaknya juga mempersilakan warga untuk menanam padi atau palawija di hutan. "Kami juga sudah mengajukan dana untuk bantuan bibit pada APBD tahun depan," katanya.
Rana Akbari Fitriawan
20 Mei 2008
Yon, Sederhana di Tengah Pohon Cabai Kopay
Agnes Rita Sulistyawaty
Sebuah kebetulan ketika Syahrul Yondri (43) menemukan cabai merah keriting yang panjangnya sampai 35 sentimeter tahun 2005. Sebagai petani yang gemar meneliti, dia sesungguhnya tengah bereksperimen untuk menemukan cara mengatasi virus kuning.
Dorongan untuk mendapatkan cara mengatasi virus kuning berawal ketika Yon, panggilan Syahrul Yondri, gagal panen sampai tiga kali. Setelah mengalami kerugian Rp 20 juta akibat virus kuning, petani cabai di Kelurahan Koto Panjang Lampasi, Kecamatan Payakumbuh Utara, Sumatera Barat, ini menghabiskan waktu lima tahun bereksperimen untuk mendapatkan cara menanggulangi virus yang mematikan tanaman cabai itu.
Dari sejarah, Yon menemukan petunjuk model penanaman zaman nenek moyang. Petani zaman dulu menanam cabai di lahan yang dikelilingi kolam karena tanaman menjadi lebih kuat menghadapi penyakit. Yon pernah mencoba cara itu, dan memang ada peningkatan ketahanan tanaman.
"Prinsipnya, virus itu tak tahan terkena panas yang kuat. Biasanya, virus bersembunyi di bagian bawah daun. Air berfungsi memantulkan cahaya sehingga panas matahari memantul dan mengenai bagian bawah daun," kata Yon yang juga menjadi Ketua Kelompok Tani Tunas Baru.
Akan tetapi, dia belum puas dengan hasil itu. Dicobanya memakai cermin yang diletakkan di tanah, tepat di bawah tanaman. Hasilnya bukan saja menghambat perilaku mematikan virus itu, tetapi juga membuat proses pemasakan tanaman lebih baik. Dari sinilah Yon memanen buah cabai yang lebih panjang dibandingkan cabai pada umumnya.
Perkembangan selanjutnya, fungsi kaca diganti plastik mulsa yang diberi cat perak. Dengan demikian, pemantulan cahaya tetap terjadi sehingga virus yang biasa tinggal di bagian bawah daun terbunuh pula.
Dari sisi perawatan tanaman, petani juga tak repot mengurus karena tanaman cabai kopay juga lebih tahan terhadap serangan virus kuning.
"Memang daun tanaman masih tetap kuning, tetapi tanaman tetap berbuah dan buahnya masih tetap baik," tutur Yon yang akan melakukan serangkaian penelitian lanjutan untuk melemahkan serangan virus agar daun tanaman tidak menguning.
Buah terpanjang
Ketika pertama kali memperoleh buah cabai yang berukuran lebih panjang, dia lalu berpikir untuk melakukan penyempurnaan buah. Dari panen pertama dipilihnya buah terpanjang untuk dikembangbiakkan lagi.
Pada panen kedua, dia juga kembali memilih satu buah cabai yang paling unggul. Biji buah disemaikan lagi sehingga menghasilkan buah dengan kualitas yang semakin baik. Panjang cabai berkisar 30-33 sentimeter, bahkan pernah mencapai 40 cm. Padahal, cabai biasa rata-rata hanya 20 cm.
Sejumlah 20 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Muda dan puluhan petani lain di Koto Panjang Lampasi juga senang menanam cabai ini. Itu bukan semata-mata karena ukurannya yang lebih besar dibandingkan cabai biasa atau karena pohon cabai bisa setinggi satu meter, tetapi karena hasil panen yang lebih banyak.
Setiap batang cabai kopay mampu menghasilkan sekitar 1,4 kilogram per masa tanam, sedangkan tanaman cabai pada umumnya memproduksi enam ons saja. Pada usia 90 hari, petani mulai memanen cabai untuk pertama kali.
Petani juga gembira karena harga jual cabai kopay jauh di atas rata-rata. Ketika harga cabai di Sumatera Barat berkisar Rp 14.000 per kg, cabai kopay sudah menembus Rp 22.000. Harga termurah cabai kopay Rp 15.000 per kg, tetapi itu terjadi sekali saja dan bertahan hanya seminggu. Umumnya harga cabai kopay berkisar Rp 20.000 per kg.
Meski harga cabai kopay tinggi, rasa cabai yang pedas tetapi tidak melilit dan lebih awet dibandingkan dengan cabai biasa ini membuat cabai kopay diperdagangkan sampai ke Provinsi Riau.
Sayangnya, permintaan mengirim dua ton cabai per hari untuk seorang pedagang saja belum sanggup dipenuhi petani di Koto Panjang Lampasi. Sebab, produksi petani baru mencapai dua ton per minggu.
Begitu menggiurkannya prospek menanam cabai kopay, sampai-sampai pemuda di sekitar tempat tinggal Yon pun mulai ikut bertanam cabai.
"Para pemuda itu dulu hanya duduk-duduk di kedai kopi saja karena mereka tak punya pekerjaan. Tapi begitu melihat prospek cabai kopay, mereka mulai menggarap lahan milik keluarga atau menyewa lahan," ucap Yon yang telah membeli tanah, rumah, dan mobil dari hasil menjual cabai.
Tak mau terkenal
Sebagai pencinta tanaman cabai, Yon masih menyimpan sejumlah pekerjaan rumah, seperti meneliti cara pertanian organik yang sepenuhnya bebas dari produk pabrik. Yon sadar bahwa menemukan cara untuk meningkatkan kesejahteraan petani tak bisa digantungkan pada orang lain. Petanilah yang paling mengerti kondisi dunia pertanian.
"Penyuluh lapangan itu pun belum tentu pernah menanam cabai. Teori juga belum tentu bisa diterapkan di lapangan," kata Yon.
Dia pun tak risau ketika Wali Kota Payakumbuh Josrizal memberikan nama kopay untuk cabai tersebut, bukan nama Yon sebagai penemunya. Kopay merupakan akronim dari "Kota Payakumbuh-Yon".
"Ah, biarlah nama itu, yang penting saya tetap bisa mencari cara agar pertanian ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani," ucapnya.
Cabai kopay yang menjadi kebanggaan Kota Payakumbuh tengah dalam proses sertifikasi, agar produk ini tidak diklaim oleh pihak lain. Yon sebenarnya ingin agar cabai kopay bisa ditanam di banyak daerah, sejauh itu dapat menambah penghasilan petani.
Di tengah keberhasilan yang dipetiknya, Yon tetap sederhana. Sehari-hari dia suka mengenakan kaus dan bersandal jepit. Dia bahkan merasa risi ketika namanya mulai dikenal sehingga banyak tamu yang datang ke kampungnya.
"Kalau banyak tamu, waktu saya untuk bereksperimen makin terbatas. Kapan bisa menyelesaikan pekerjaan rumah, ha-ha-ha...," kata Yon yang memutuskan tidak punya telepon seluler ini.
Alumnus SPG, Berjaya di Ladang
Menjadi petani cabai adalah profesi kesekian yang dilakoni tamatan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Payakumbuh ini. Setelah mengajar selama sebulan di SD Negeri Koto Nan Gadang, suami Yulismar itu menjadi montir alat elektronik sekitar enam tahun.
Setelah itu, pria kelahiran Payakumbuh, 30 Juli 1965, ini beralih menjadi tukang bangunan seperti yang dilakukan ayahnya.
Setelah sembilan tahun menjadi tukang, ayah dari Siska Sri Indah Mulia itu mencoba bertanam. Ketika itu, seorang kawan menganjurkan Yon menanam cabai sebab komoditas ini menjanjikan hasil ketimbang menanam padi.
Awalnya Yon mencoba di lahan 1.000 meter persegi yang disewanya seharga Rp 150.000 per masa tanam cabai. Ia mulai menjadi petani. Masa itu, selain bertani, dia juga masih menerima tawaran bekerja sebagai buruh bangunan.
Lama kelamaan, Yon lebih tertarik kepada tanaman yang memberinya pendapatan sekaligus tantangan itu. Penelitian cara memberantas virus kuning menjadi salah satu wujud kecintaannya kepada dunia pertanian. (ART)
14 Mei 2008
Mes Serikat Petani Pasundan Terbakar
GARUT - Terjadi Kebakaran yang melumpuhkan Pusdik dan Mess Serikat Petani Pasundan (SPP) serta satu unit rumah warga milik Solihin (38) di Jalan Raya Samaran Kampung Nagara Tengah Desa Cimangaten Kecamatan Karogong Kaler Garut sekitar pukul 02.45 WIB dini hari tadi.
Api baru bisa dipadamkan pukul 05.00 WIB. Kebakaran ini mengakibatkan kerugian sebesar Rp. 250 Juta. Namun, kebakaran ini tidak menimbulkan korban jiwa. Penyebab kebakaran belum bisa dipastikan hingga kini.
Humas SPP, Anwar yang menyaksikan kejadian itu mengatakan titik api berasal dari bangunan Pusdik yang berukuran 6 kali 12 meter. Api kemudian dengan cepat merambat ke Mess berukuran 12 kali 9 meter yang pada saat itu dihuni oleh lima orang pelajar dia antaranya Enis (16), Sata (17), Siti (16), Ahmad (17), Asep (26) dan Ayi (18) serta keluarga Upi (32), Yuli (28), Asep (26) serta seorang anak bernama Vikri (3).
"Beruntung semuanya dapat selamat namun yang saya bingung, kejadian ini berlangsung setelah kami menyerahkan tiga juta sertifikat tanah kepada masyarakat se Jawa Barat di Kabupaten Sumedang," kata Anwar, Rabu (14/5/2008).
Selain itu, lanjut Anwar, pihaknya pun berencana akan menggelar aksi pada tanggal 20 Mei mengenang 1 abad kebangkitan nasional dengan tuntutan reformasi agraria.
"Saya yakin kebakaran ini bukan akibat korsleting listrik," ujarnya.
Sementara itu, Sekjen SPP, Agustiana mengatakan akibat kebakaran ini sejumlah dokumen penting pengajuan tanah yang dimohonkan masyarakat hagus tidak terselamatkan.
"Pokonya saya serahkan kepada pihak kepolisian, saya tidak akan menuduh siapa-siapa nantinya timbul implikasi lain," katanya.
Kapolwil Priangan, Kombes Anton Cadian yang dimintai keterangan menyampaikan pihaknya akan menggunakan sistem scientific investigation untuk menemukan kebenaran fakta.
"Kami telah meminta Puslabfor Mabes POLRI untuk melakukan identifikasi. Ya mudah-mudahan hasilnya dapat diketahui secepat mungkin kita proses," terangnya.
Cadian juga berharap kejadian ini tidak menyurutkan perjuangan SPP untuk menyemangati dan membangun tanah Pasundan.
(Sigit Zulmunir/Trijaya/fit)
Supriatin, Menikmati Manisnya Stroberi
| |
| KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG / Kompas Images Supriatin |
Oleh Dwi Bayu Radius dan Cornelius Helmy
”Let me take you down cause I’m going to strawberry fields/ nothing is real/ and nothing to get hung about… strawberry fields forever...”
Itulah lagu ”Strawberry Fields Forever” dari kelompok musik asal Inggris, Beatles, yang ditulis dan dinyanyikan John Lennon. Di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, kebun stroberi itu benar-benar ”riil”. Orang bisa berjalan-jalan menikmati kehijauan kebun stroberi. Bahkan, kita juga bisa memetik dan mencecap manisnya buah berwarna merah tersebut.
Kebun stroberi yang dirintis Supriatin Budiman (58) sejak tahun 1999 itu diberi nama Vin’s Berry Park. Lelaki kelahiran Jakarta itu memulai usaha tersebut dari sebidang tanah seluas 5.000 meter persegi.
Pada awalnya ia sempat terseok-seok. Dia menghadapi berbagai masalah, mulai dari soal kualitas bibit stroberi yang jelek sampai panen yang gagal. Titik cerah datang ketika Supriatin mendapat informasi mengenai bibit stroberi kualitas terbaik dari California, Amerika Serikat, seperti Earlybrite, Festival, dan Sweetcharlie.
”Sebelum itu saya masih menggunakan bibit Shantung asal China atau Nioho asal Jepang. Buahnya kecil dan tekstur buahnya juga lembek sehingga cepat busuk. Rasanya pun tidak terlalu manis. Sedangkan bibit asal California umumnya berbuah lebih besar dengan tekstur daging buah tidak lembek. Selain itu, rasanya jauh lebih manis dan berumur lebih panjang,” kata Supriatin.
Bibit asal California itu ternyata tergolong unggul. Nyatanya, hasil panen melimpah dan konsumen pun bertambah. Dia lalu memperluas kebun menjadi sekitar 2 hektar, dengan 50.000 tanaman stroberi.
Kapasitas produksi rata-rata pun berlipat ganda dari yang semula 10 kilogram per hari menjadi rata-rata 20 kilogram per hari. Bila seluruh tanaman berbuah bersamaan, produksi bisa mencapai 1 kuintal per hari.
Dengan upaya yang ulet dan sungguh-sungguh menjaga kualitas, ia pun mendapat kepercayaan konsumen. Mereka diajaknya berkunjung ke kebun. Mereka dipersilakan melihat sendiri bahwa produk stroberi itu dihasilkan tanpa bahan pengawet.
Stroberi tersebut dijual dalam kemasan dengan harga Rp 70.000 per kilogram untuk ukuran super, Rp 60.000 ukuran medium sampai besar, Rp 50.000 medium sampai kecil, dan Rp 40.000 per kilogram untuk ukuran kecil.
Selain stroberi, Supriatin juga tengah mengobservasi blackberry dan raspberry dengan jumlah masing-masing 1.500 dan 3.000 pohon. Dia ingin kebun itu bisa menjadi tempat pembudidayaan buah dengan pupuk organik.
Kafe stroberi
Usaha Supriatin tidak berhenti hanya dengan kebun stroberi. Setelah menguasai hulu sebagai penghasil stroberi, dia pun merambah wilayah hilir dengan membuat beragam produk olahan stroberi, seperti selai, sirup, es krim, dan yoghurt.
Ia juga melebarkan sayap usaha dengan membuka Vin’s Berry Cafe, rumah makan di Jalan Patuha, Kota Bandung. Di tempat santap ini tersedia menu yang menggunakan bahan baku stroberi. Untuk operasional kebun dan rumah makan itu, Supriatin mempekerjakan lebih dari 25 orang.
Dalam perkembangan selanjutnya, Vin’s Berry Park sejak tahun 2006 juga menjadi ladang penelitian. Para mahasiswa seperti dari Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran pun menggunakan kebun itu untuk belajar berbagai ilmu, antara lain manajemen budidaya, pemasaran, dan perkebunan.
”Saya ingin berperan sebagai semacam dosen pembimbing lapangan,” katanya.
Bukan hanya mahasiswa, anak-anak dan siapa saja yang ingin mengenal stroberi bisa datang ke kebun Supriatin. Di sini, sambil bermain, anak-anak bisa belajar tentang pelestarian alam, budidaya tanaman, serta aktivitas luar ruang atau outbound.
Jangan kaget kalau di sekitar kebun stroberi itu juga tersedia arena ketangkasan seperti gokar, tali luncur atau flying fox, papan panjat, titian tali (high rope), sampai kolam untuk bermain rakit.
Peluang pasar
Dari pengalaman membudidayakan stroberi, Supriatin bisa melihat potensi besar buah itu. Tetapi, sejauh ini stroberi belum dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat. Varietas, metode penanaman, dan sistem penjualan stroberi relatif belum tergarap.
Infrastruktur penanaman stroberi yang dilakukan petani Jawa Barat pun umumnya masih tradisional. Misalnya dalam penggunaan sistem pengairan. Tanaman umumnya masih disiram secara konvensional dan ditanam di alam terbuka. Akibatnya, kualitas air tidak bisa terkontrol sehingga berpengaruh buruk pada buah.
”Ada cara lebih baik, seperti selang hidroponik atau irigasi tetes, yang langsung disalurkan ke media tanam setiap bibit tanaman. Jika ada tanaman yang terkena penyakit atau serangan hama, langsung diisolasi dan dimusnahkan,” katanya.
”Melalui pengenalan secara terus-menerus, petani mulai menggunakan varietas impor walaupun harga bibit lebih mahal. Mereka percaya, ketika panen, untungnya akan lebih besar bila menggunakan bibit impor,” ujarnya.
Ke depan, Supriatin berharap tanaman stroberi bisa menjadi andalan bagi penduduk Lembang atau daerah lain yang mempunyai ketinggian lebih dari 1.000 meter. Bila dikerjakan dengan serius, dia yakin, stroberi bisa memberikan lapangan kerja yang layak bagi banyak orang.
Ia memberi contoh pada masyarakat yang berada di sekitar Vin’s Berry Park. Sekarang, 13 orang sudah menjadi tenaga pembantu sebagai pengelola perkebunan. Tugas mereka tidak hanya melayani pengunjung, tetapi juga belajar cara bercocok tanam yang baik, pelatihan aktivitas luar ruang, hingga belajar pengelolaan pemasaran.
”Saya berharap mereka juga bisa mandiri. Suatu hari nanti mereka diharapkan memajukan Lembang dengan memaksimalkan potensi stroberi. Mereka yang ingin belajar datang saja, saya akan membantu,” kata Supriatin.
Apa yang diharapkan Supriatin rasanya tak berlebihan. Peluang usaha itu kini mulai terlihat hasilnya. Dari Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, hingga Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, terhampar hijau-merah kebun stroberi. Persis fantasi John Lennon: ”Strawberry fields forever....”
09 Mei 2008
[Petani] Yaimin Tewas Ditembak Aparat Gabungan
MADIUN - Seorang warga tewas terkena tembakan peluru aparat gabungan Polhut Perhutani KPH Madiun bersama anggota Polwil Madiun, Selasa (6/5/2008) petang.
Korban tewas diketahui bernama Yaimin (40), warga Desa Wonorejo, Kec Mejayan, Kab Madiun. Dia tewas setelah timah panas menembus punggung tembus hingga perut. Insiden terjadi di kawasan hutan petak 48-56, RPH Wates, BKPH Caruban, KPH Madiun, Desa Wonorejo, Kec Mejayan, Kab Madiun.
Petang itu, petugas gabungan Polhut Perhutani bersama anggota Polwil Madiun melakukan operasi di kawasan hutan. Ketika di lokasi kejadian, petugas mendengar ada sekelompok warga yang diduga menebang kayu secara illegal.
Petugas kemudian memberi peringatan dengan menembakkan dua kali peluru ke atas. Namun, sekelompok warga yang diduga berjumlah lebih dari lima orang diduga melawan dengan cara melempari batu. Situasi itulah yang membuat petugas kemudian menembak ke arah sekelompok orang itu.
Tembakan petugas mengenai Yaimin dan membuatnya ambruk dan tewas di lokasi kejadian. Sedangkan, warga lainnya langsung berhamburan lari menyelamatkan diri. Hingga saat ini, petugas masih mencari orang-orang yang melarikan diri dari lokasi kejadian tersebut. Sementara, jenazah korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedono, Kota Madiun, untuk dilakukan otopsi.
Wakapolres Madiun, Kompol Hendra Rahman, mengungkapkan, pihaknya masih menyelidiki kejadian penembakan hingga mengakibatkan satu warga tewas tersebut. "Kita masih menyelidiki insiden penembakan ini. Dari dugaan sementara, insiden penembakan ini terjadi karena ada pencurian kayu di kawasan hutan," ujarnya. (Muhammad Roqib/Sindo/pie)
01 Mei 2008
Pernyataan AGRA: Tarik Segera Pasukan Kepolisian dan Hentikan Kekerasan Kepada Petani!
Alasan kedatangan aparat kepolisian dan ormas PP, GIBAS dan massa SP BUN PT. Condong ini menurut Kepolisian Resort Garut karena telah adanya laporan dari pihak PT. Condong kepada aparat kepolisian bahwa terjadi perusakan kantor koperasi dan penyerangan pabrik milik PT. Condong. Padahal warga hanya melakukan pendudukan lahan-lahan yang tidak produktif yakni tanaman sawit yang sudah tua di wilayah yang menjadi klaim masyarakat. Artinya, pihak PT Condong telah melakukan manipulasi atas situasi yang sesungguhnya sebagai alasan dan dasar perusahaan memanggil pihak kepolisian dan ormas-ormas tersebut.
Karena itu, PT Condong telah melakukan provokasi kepada masyarakat tani di Desa Karangsari dengan menghadirkan Kepolisian Resort Garut dan ormas-ormas tersebut. Provokasi perusahaan telah menghasilkan 1 (satu) orang buruh tani bernama Cecep mengalami luka di kepala dan saat ini dirawat oleh mantri kesehatan setempat.
Pada pukul 23.00 sudah terjadi negosiasi antara warga dengan pihak aparat keamanan yang menghasilkan kesepakatan perundingan dengan kepolisian pada 1 Mei 2008. Walaupun demikian, kami menegaskan pihak Kepolisian Resort Garut tidak berhak atas perundingan yang menyangkut sengketa ini karena sudah ada Tim 11 Penyelesaian Sengketa Tanah yang terdiri dari Pemerintahan Kabupaten Garut, BPN Garut, Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Garut.
Oleh karena itu, kami menuntutkami dari Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Jawa Barat – Banten. Dengan ini menuntut:
1. Segera tarik pasukan aparat kepolisian dari Polres Garut beserta massa Pemuda Pancasila (PP) GIBAS serta SP-BUN dan segera hentikan segala bentuk kekerasan, intimidasi dan provokasi kepada petani Desa Karangsari Kecamatan Pakenjeng Kab. Garut.
2. Mendesak kepada TIM 11 Penyelesaian Sengketa Tanah Kabupaten Garut untuk segera menyelesaikan sengketa tanah melalui cara-cara terbuka dan demokratis dengan melibatkan langsung petani ke dalam tim tersebut.
Demikian surat ini kami sampaikan agar menjadi perhatian dan segera ditindaklanjuti. Terima kasih.
Bandung, 1 Mei 2008